Kategori

SAMARINDA - Jumat malam, 8 Februari 2019, menjadi pelajaran bagi siapa saja, terutama Seorang Safruddin Pernyata, dan seniman Kalimantan Timur bahwa setiap kebaikan yang ditanam, pasti akan diingat meskipun roh telah berpisah dengan raga.

Mugni Baharuddin, seniman, budayawan, mantan birokrat itu telah mengajarkan kepada banyak orang tentang kebaikan yang telah disemainya di banyak tempat di Bumi Etam Kalimantan Timur.

Kebaikan yang telah ditanamkan Mugni itulah menyebabkan ia selalu dikenang dan didoakan. Karena itu, ketika para seniman malam Jumat lalu  berkumpul dan SAF (Syafruddin Pernyata) panggilan akrab mantan Kepala Dinas Parawisata saat diberi kesempatan berbicara di panggung wadah bekape. Ia menuturkan  bahwa dirinya tidak mungkin hadirin berkumpul di Taman Budaya untuk berdoa bersama Seniman  kalau kebaikan dan keteladanan Sang Maestro Cimuk.

Beliau mengajarkan kebaikan itu. Dan Kebaikan itulah yang diingatnya. Itulah mengapa seseorang selalu diingat.  Dengan menyebut pepatah yang sering terucapkan  “manusia mati meninggalkan nama, harimau mati meninggalkan belang.” Tutur mantan Koro Humas Provinsi Kalimantan Timur.

SAF bertanya pada seniman yang hadir malam itu Untuk apa kita berkumpul kecuali untuk belajar dan mendoakan Beliau?"

Beliau hanya terpaut empat tahun dari saya. Apakah jika tiba waktunya menyusul Mugni, dirinya  akan dikenang jua? Hadirin spontan mengatakan Ya, Ini pelajaran berharga. Seseorang tidak akan dikenang jika semasa hidupnya tidak menorehkan sejarah kebaikan, karya dan pengabdian."

Demikianlah Mugni telah mengajarkan kepada para seniman dan birokrasi. Ajarannya itulah yang menjadi alasan kawan-kawan berkumpul di taman Budaya. Banyak seniman, tampak  H. Syafril Teha Noer (HSTN),  H. Hamdani, Wawan Timor, Awang KhalikAwang IrwandiHabolhasan Asyarie, Hanafiah THS, Misman Rsu, Kepala Taman Budaya Guntur Sahara, Agus Dwi Utomo,  Pance, Ian BI, Ian Nari, Herman A Latif Salam, Riduan HoesinKhairid DahaElansyah Jamhari raja Sandima,  Fitri Ekadinanti, Encik Widyani anggota DPRD Karang Paci, Selamat SaidArafat A. Zulkarnaen, Lutfi CS, Iwan Koekubus, Agus Fadlan Nur yang jauh- jauh datang dari Berau serta  dan Fajar King.

Selamat berkary," kata Saf mengakhiri sambutannya. Kalimat itu sesungguhnya bukan untuk hadirin melainkan untuk diriku sendiri bahwa seseorang akan dikenang selain karena kebaikannya juga karena karyanya. Apa kegiatan setelah pension dari Dinas Parawisata. Jawabnya singkat “ Cuma jaga kebun”.

Bertutur soal Mugni memang tidak ada habisnya, Mugni adalah gurunya para Seniman Kalimantan Timur, termasuk mengajari penulis jadi seorang Dosen. Beberpa tahun silam saat itu Mugni berniat untuk eksodus ke Kabuputan Kutai Timur mengikuti sang Bupati yaitu Awang Faroek. Semua berkas sudah di tandatangani oleh Walikota Samarinda H.A. Amins, tinggal boyongan saja. Sekitar pukul 22.30 telpon genggam penulis bordering, sekali belum di angkat, dalam hati siapa yang menelpon malam buta begini. Begitu telpon berbunyi kedua kalinya baru terjawab, beliau mengucapkan salam dan berkata Ikam (Kamu) datang kekantor besok pukul 0.8.00 pagi lah dalam dialek Banjar, Penting”. Baik pak jawabku singkat.

Ke seokan harinya berangkat menuju kantor Mugni di jalan Dahlia. Mugni sudah menunggu di ruangnya sambil mengusap wajahnya dengan sapu tangan. Kita duduk di depan saja, maksudnya di ruang pertemuan. Beliau bertutur soal keinginan pindah dinas di Sanggata. Kata Mugni tadinya ingin sekali mencari suasana baru, ternyata begitu berkunjung ke Kutai Timur, keinginanya pindah tugas menjadi Kepala Dinas di batalkan, alasanya kondisi Kutim yang masih hutan. Kata mugni tugasmu sekarang, segera ke Walikota Samarinda dan katakan Mugni mengurungkan niatnya pindah dinas Ke Kutim.

Siapa saya pak, kataku pada beliau, kamukan wartawan yang pemberani, apa hubungannya wartawan pemberani dan keinginan pak Mugni mencabut berkas yang sudah di tanda tangani Sekda dan Walikota Samarinda. Lagi-lagi  Mugni berucap iakm wartwan pemberani pasti tahu bagaimana caranya membujuk Pak Wali agar surat itu tidak di kirim kementri dan ke BKD Kutim. Baik pak doakan saya. Saya langsung pamit menuju kantor Walikota.

Walikota Samarinda Achmad Amins kebetulan sudah ada di kantornya, saya pamit dengan ajudan beliau dan berkata saya ingin menghadap ada hal prinsip. Sang ajudan langsung menghadap, tidak lama kemudian ajudan keluar dan mempersilahkan saya masuk. Salam pak Wali. Sedikit pembuka kata memulai, menyampaikan keinginan Mugni Baharuddin mengurungkat niatnya untuk tidak di pindahkan ke Kutai Timur. Pak Achmad Amins hanya mendengarkan saya bertutur soal Mugni. Akhinrnya Achmad Amins berkata surat sudah di tanda tangani. Rasanya mulut saya terkunci, kata apa lagi menyakinkan beliau. Pada  tahun itu sebentar lagi akan di adakan pemilihan Walikota Samarinda. Ini kata kuncinya dalam hati saya. Maaf pak wali, bapak masih ingin jadi walikota yang ke dua kalinya kan, Tanya saya. Ya tentu kata Amins saat itu.

Rasanya, Mugni masih sangat di perlukan saat ini untuk menggalang massa kepala sekolah dan para guru sekota Samarinda, apa pak Amin mau kehilangan suara dan tidak terpilih jadi Walikota yang ke dua kalinya. Betul Ikam dalam dioloq banjar bercampur suara bugis beliau.  Saya bertanya ulang jadi bagaimana pak, apakah masih mau memindahkan Cimuk ke Kutim ? singkat kata, kamu datangi Sekda, waktu itu yang menjabat Sekda adalah Saili. Baik pak segera ke Sekda. Keberuntungan Mugni selau ada, saya langsung pamit dan segera menghadapa Sekda.

Sekda Kota Samarinda juga sudahada di ruanganya, saya juga permisi dengan sekretaris beliau dan kukatakan ingin menghadap  pak Saili atas perintah pak Amins. Saya di persilahkan masuk dan sedikit membuka kata soal Mugni. Sekda mengatakan surat sudah di tanda tangani olek Walikota dan tinggal di kirim ke yang berwewenang mengeluarkan surat selanjutnya. Maaf pak Sekda kata pak Walikota ini perlu didiskusikan kembali mengingat Suara Mugni dan para guru dan kepala sekolah sekota Samarinda  masih sangat di perlukan dalam perhelatan Walikota jilid dua Achmad Amins, jadi gimana Saili bertanya balik, saya katakan jika bapak sudah diskusi sama Pak Achmad Amins, batalkan saja Mugni Baharuddin pindah ke Kutim, itu keinginan saya, tapi terpulang ke bapak berdua. Baik kata pak Saili nanti saya bertemu dengan pak Wali tentang hal ini dan masuk di akal suara Cimug masih di perlukan. Singkat kata Mugi tidak jadi pindah ke Kutim dan Pak Achmad Amins terpilih kembali jadi Walikota Samarinda yang kedua kalinya.  (Fajar Fahrudin)