Kategori

JENEWA - Korea Utara menegaskan jika ancaman dan sanksi apapun yang dijatuhkan tidak akan dapat mempengaruhi program persenjataan nuklir mereka.

Pernyataan itu disampaikan perwakilan Korea Utara dalam forum perlucutan persenjataan PBB, menyusul ancaman "tekanan maksimal" oleh Presiden Donald Trump.

 "AS harus mengetahui bahwa sanksi dan tekanan tidak akan pernah mengancam (Korea Utara) dan tidak akan pernah berhasil," kata Han Tae Song, perwakilan Pyongyang dalam Konferensi Perlucutan Senjata PBB di Jenewa,sebagaimana dilansir,  KOMPAS.com, Selasa (27/2/2018).

Sebelumnya, Trump mengungkapkan jika AS telah menyiapkan "sanksi terberat" yang akan dikenakan kepada Korea Utara.

 Washington telah memberikan konfirmasi terkait sanksi baru tersebut, yang dikatakan bakal menargetkan seluruh kapal yang tengah dipergunakan oleh Korea Utara.

Dalam forum Badan Perlucutan Senjata PBB, perwakilan Korea Utara dengan AS kerap kali terlibat adu argumen, karena kedua pemerintahan sangat jarang saling bertemu, dan di forum tersebut mereka saling bertatap muka.

"Jika AS mengabaikan usaha tulus kami untuk memperbaiki hubungan antar-Korea dan lebih memilih memprovokasi dan konfrontasi, maka DPRK pasti akan memberi tanggapan," kata Han, menggunakan nama Republik Demokratik Rakyat Korea.

Hubungan antara Korea Utara dengan Korea Selatan belakangan tampak membaik, menyusul keikutsertaan kedua negara di ajang Olimpiade Musim Dingin di Pyeongchang.

Namun AS tampaknya tidak mempedulikan hal tersebut dan berjanji bakal tetap mempertahankan tekanan terhadap Pyongnyang.

Han mengancam, jika sanksi yang diberikan AS tetap memberikan dampak, maka Pyongyang bakal melangkah ke tahap kedua yang disebutnya merupakan hal yang sangat buruk.

"Kami akan melangkah ke tahap dua. Tahap dua mungkin menjadi hal yang sangat buruk," kata dia.

Sementara perwakilan AS, Robert Wood, dalam forum tersebut kembali menegaskan bahwa Washington tidak akan pernah menerima Korea Utara sebagai negara berkekuatan nuklir.

Wood juga menjawab ancaman wakil Korut.  "Hal itu tidak akan pernah terjadi," kata dia.