Kategori

SEOUL - Sanksi internasional terbesar dan terkuat yang dijatuhkan pada Korea Utara diperkirakan akan memberi dampak pada perekonomian negara tertutup itu mulai Maret tahun depan.

Hal tersebut diungkapkan Institut Strategi Keamanan Nasional yang berada di bawah Badan Intelijen Nasional Korea Selatan, pada Senin (18/12/2017).

Dilansir dari Yonhap, sebagai bentuk perlawanan akan penambahan sanksi yang dijatuhkan, Korea Utara justru meningkatkan investasi dalam pengembangan kekuatan konvensional.

"Itu akibat tekanan kekuatan militer yang dilancarkan Amerika Serikat dan sekutunya."


"Diperkirakan hal tersebut akan mulai memberi dampak serius pada perekonomian mereka sekitar bulan Maret tahun depan," kata Institut Strategi Keamanan Nasional.

Komite Sanksi PBB telah memperkirakan Resolusi Sanksi Keamanan PBB 2375 yang mulai diberlakukan pada September lalu akan mulai menunjukkan dampak pada enam hingga 12 bulan usai diumumkan.


Meski disebut bakal mengalami kesulitan ekonomi, masih harus dilihat apakah Korea Utara akan mengubah posisinya yang berpegang pada program pengembangan senjata nuklir.

"Korea Utara mungkin akan lebih fokus membangun ekonomi sambil terus mempertahankan kebijakan negara nuklir terkuat," kata lembaga itu.

Kim Jong Un diperkirakan akan menggunakan momen Olimpiade Musim Dingin 2018 di PyeongChang untuk kesempatan berdialog dengan Korea Selatan.

Namun jika upaya damai berujung kegagalan, Korea Utara juga diperkirakan dapat memilih untuk meneruskan provokasi militer.

Bisa dengan melakukan uji coba peluncuran misil balistik antar-benua sejauh mungkin atau mencoba meluncurkan misil dari kapal selamnya.

Bahkan Pyongyang juga mungkin kembali melakukan uji coba nuklir untuk ketujuh kalinya.