Kategori

WASHINGTON DC  - Panglima Komando Pasifik AS (PACOM) Laksamana Harry Harris di hadapan Kongres menjelaskan rencana AS menghadapi pengaruh China yang semakin kuat di Asia-Pasifik.

Dalam pidatonya, Harris mengedepankan peran Australia, sekutu non-NATO, sebagai pusat kekuatan PACOM di Samudera Pasifik, sebagaimana dilansir, KOMPAS.com.

"Australia adalah salah satu kunci untuk menjaga ketertiban internasional," ujar pria yang juga bakal menjadi duta besar baru AS untuk Australia itu.

Harris menambahkan, modernisasi dan kemajuan militer China adalah elemen dasar strategi negeri itu untuk menggeser AS sebagai sekutu negara-negara Indo-Pasifik.

"Namun, China juga memiliki ambisi yang lebih global," lanjut Harris.

"Akhirnya, kemampuan untuk menghadapi perang amat penting atau kita hanya akan menjadi macan ompong. Kita akan bekerja sama (dengan China), tetapi tetap siap berkonfrontasi jika diperlukan," Harris menegaskan.

Meski mengaku siap menghadapi militer China, Harris tetap berharap konflik dengan negeri itu tidak akan pernah terjadi.

"Namun, kita semua harus tetap bersiap jika konflik memang harus terjadi," ujar Harris.

Di sisi lain, retorika yang dilemparkan Harris ini mungkin tak akan dengan mudah diterima. Apalagi, Australia menunjukkan minatnya mendekati China.

"Australia memiliki hubungan amat kuat dengan Washington, dan kami juga memiliki teman-teman yang amat baik di Beijing," kata PM Australia Malcolm Turnbull pada Maret tahun lalu.

"Ide bahwa Australia harus memilih antara China atau Amerika Serikat, sama sekali tidak benar," tambah Turnbull.

Komentar keras Laksamana Harris ini muncul di saat hubungan antara China dan Amerika Serikat tak bisa dikatakan baik.

Apalagi kedua negara yang sama-sama anggota DK PBB itu kerap berseberangan dalam hal sengketa wilayah di Laut China Selatan.

China terus memprotes kehadiran militer AS di Laut China Selatan, semetara AS mengecam pembangunan pangkalan militer China di perairan yang masih disengketakan tersebut.