Kategori

Perubahan iklim telah menghadirkan berbagai dampak dalam kehidupan manusia, dan hewan baik yang terjadi di negara-negara maju maupun di negara-negara berkembang seperti halnya Indonesia “ Kalimantan Timur pada umumnya”. Fenomena alam yang luar biasa menuntut adanya respons positif secara global, mengingat dampak yang ditimbulkannya juga berskala global.

Salah satu masalah besar yang muncul dalam satu dekade terakhir ini adalah perdebatan mengenai perubahan iklim, siapa yang seharusnya memulai upaya mengatasi perubahan iklim beserta dampak yang ditimbulkannya. Perdebatan menjadi berlarut-larut dan tidak tuntas, karena perbedaan pendapat antara dua kelompok kepentingan, yaitu kelompok negara-negara maju dan kelompok negara-negara berkembang.

Kelompok negara maju sebagai sumber penghasil gas rumah kaca, di masa lalu maupun sekarang, dituntut menjadi yang pertama kali mengurangi emisinya. Mereka tidak memberikan respon positif, karena menurunkan emisi berarti menghambat pertumbuhan ekonominya, sehingga ide pengurangan emisi yang topik menjadi sia-sia. Sementara, menempatkan tanggungjawab perubahan iklim kepada negara-negara berkembang, juga bukanlah pilihan yang tepat dan mendapat resistensi yang kuat. Negara-negara berkembang akan terus melanjutkan pembangunan ekonominya meskipun beresiko tingkat pertumbuhan emisinya akan meningkat pula.

krisis ekologi di seluruh dunia telah mengancam kelangsungan hidup manusia dan pembangunan. Maka pada era hak penguasaan hutan di Indonesia, Hasil hutan di babat habis  Kelestarian lingkungan terabaikan. Hutan Kalimantan di babat habis pemberlakuan ekolobeling sedikit dapat menghambat lajunya penebangan hutan. Akibatnya Menjaga keselamatan lingkungan terabaikan sama asekali. Untuk mengantisipasi bencana alam, antisipasi terhadap krisis dan bencana ekologi yang tak terduga, walaupun menurut Achmad Jayansya sudah sangat terlambat, mantan manager keuangan di salah satu perusahaan kayu milik Bob hasan ini menegaskan,  merupakan hal yang penting. Pertanyaanya bagaimana solusi selanjutnya.

Ada banyak masalah lingkungan hidup yang terjadi saat ini, seperti pemanasan global, polusi, penggundulan hutan, pertambangan batubara, hilangnya keanekaragaman hayati di taman hutan rakyat bukit Soeharto, krisis energi, dan lain-lain. Untuk itu, diperlukan cara untuk mengendalikan krisis sumberdaya alam, menyeimbangkan pembangunan sosial-ekonomi dan konservasi ekologi bagi generasi sekarang dan masa depan, dan bagaimana memperkuat kemitraan antara negara maju dan berkembang.

Salah satu tujuan adalah menjaga keselamatan ekologi (ecological safety), melindungi lingkungan, mendirikan organisasi keamanan ekologi internasional, menciptakan mekanisme peringatan dini dan bersama-sama mengatasi bencana ekologi. Terutama di Kalimantan Timur sebagai paru-paru dunia. “Ingat Tahura Bukit Soeharto” saatnya stop eksploitasi batubara ! pemerintah harus tegas tidak adalagi yang namanya tebang pilih.

Permasalahan lingkungan tidak dapat diselesaikan hanya dengan melibatkan pihak-pihak tertentu saja, tetapi memerlukan kerjasama pemerintah, parlemen,  NGO, lembaga keuangan dan pengusaha, untuk mencapai pembangunan yang menyeimbangkan antara ekosistem, masyarakat.

Melindungi ekologi, menjaga lingkungan, mencegah polusi, dan mengantisipasi berbagai bencana alam, tentu menuntut tanggung jawab bersama.  Kebersamaan itu memerlukan kesamaan cara pandang (vision) dan platform yang sama, agar tercapai keseimbangan hidup yang harmonis antara masyarakat dan lingkungan. Dialog antara profesional dan akademisi,  parlemen, pemerintah, NGO,pengusaha, lembaga keuangan dan seluruh pemangku kepentingan serta aparat keamanan, sangat diperlukan. Untuk itulah,  juga amat diperlukan bagi perluasan jaringan bagi parlemen, profesional Jaksa dan Kepolisian,jurnalis,  akademisi, lembaga keuangan ataupun perusahaan, untuk mempromosikan kerjasama ekologis yang aman.

Kewaspadaan terhadap kerusakan lingkungan akibat pertambangan batu bara dan Perkebunan Sawit

Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia. Kondisi geografis Indonesia juga unik, karena terletak di antara Benua Asia dan Australia, dan Samudera Pasifik dan Hindia. Indonesia terbentang di wilayah lingkaran api (ring of fire), yang setiap saat harus waspada terhadap berbagai bencana alam seperti letusan gunung api dan tsunami serperti terjadi di Provinsi Aceh Jogjakarta dan Bali. Indonesia juga tercakup dalam dua alam biogeografis utama, yaitu Indomalaya dan Australasia dengan Garis Wallace di antaranya.

Karena faktor geografis, topografis dan iklim, Indonesia memiliki ekosistem yang beraneka ragam, antara yang hidup di laut, pantai, sampai dengan yang berada di kawasan gambut dan hutan yang banyak tersebar di Kalimantan dan di Pekan Baru, Riau. Dengan kondisi alam yang demikian, Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang luar biasa. Dari aneka ikan dunia berada di Indonesia.

Disamping itu, pulau Kalimantan dan Sumatera merupakan habitat dari hewan yang dilindungi, yaitu orangutan dan harimau Sumatera. Laut Indonesia yang meliputi kawasan seluas ratusan juta hektar, menyimpan ratusan species batu karang dan Mangrov. Perekonomian Indonesia sangat bergantung dari ekosistem sumberdaya alam yang terkandung didalamnya, yang sekarang ini sedang mengalami ancaman terhadap keberlangsungannya yaitu pengoboran minya lepas pantai, batubara, Mangrov, serta boming penanaman kelapa sawit  di Kalimantan Timur.  “Kerusakan lingkungan sudah tidak dapat lagi di kendalikan, akibat pengerukan batubara,perambahan mangrove, serta krisis lahan akibat penamanan sawit yang tidak tepat” tutur Koord Pedas Kali Achmad jayansyah, pada infokaltim online.

Dengan berbagai fenomena tersebut, Indonesia harus senantiasa waspada terhadap masalah lingkungan, terutama “ di Kalimantan Timur” termasuk memperbaiki model pembangunan, agar lebih kuat tanpa harus mengorbankan lingkungan yang ada.

 “ Ubah Perilaku serakah, Tingkatkan Kualitas Lingkungan, sayangi Mangrov di kawasan pesisir Pantai ”. Tema ini saya nilai penting dan berorientasi ke masa depan, karena  prilaku serakah yang dimaksud disini adalah mengabaikan prilaku tidak ethis untuk mencapai tiga sasaran besar yaitu, Hijaukan Mangrov dan berikan lapangan kerja serta, sayangi babitan orang hutan tanpa mengabaikan perlindungan lingkungan. Karena itu, pelestarian sumber daya alam mangrov mempunyai nilai yang sangat strategis bagi menjaga ekosistim ikan. Begitu juga tidak menggali batu bara akan menseimbangan suhu bumi di sadari bahwa,saat ini laju degradasi sumber daya alam dan lingkungan jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan laju kemampuan manusia melakukan upaya perbaikan dan melestarikanya.

Pemerintah Kalimantan Timur berupaya menerapkan prinsip Kaltim hijau sesuai dengan karakteristik “Jamrud Katulistiwa”, kondisi, dan keperluan rakyat dalam berbagai bentuk kebijakan, perencanaan dan program, di berbagai sektor pembangunan. Parlemen Kaltim  juga amat mendorong terwujudnya upaya mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim, penghijauan lahan bekas tambang batu bara, dan pesisir secara lestari, yang dilanjutkan dengan pengembangan energi bersih dan energi terbarukan yang ramah lingkungan.

Penerapan konsep Kaltim Hijau juga membutuhkan perubahan paradigma dan gaya hidup yang menghasilkan perasaan adil di antara berbagai kelompok masyarakat sekitar tambang dan pesisir pantai, sekaligus memberikan penghematan dan peningkatan daya guna ekonomi kerakyatan dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini dimaknai dengan pentingnya melakukan perubahan paradigma pembangunan dan perilaku warga masyarakat, termasuk di dalamnya dalam kegiatan eksploitasi batubara.

Kaltim Hijau juga dimaknai sebagai kemampuan untuk melibatkan rakyat secara produktif dalam pembangunan yang berkelanjutan yang diimplementasikan sesuai arah pembangunan yang pro-environment. Hal ini memerlukan kerja sama semua pihak untuk membuatnya menjadi bagian dari hidup kita sehari-hari. Dimulai dari hal-hal sederhana yang dapat kita lakukan, misalnya hemat air dan energi, serta menanam pohon di pekarangan masing-masing. Serta di lanjutkan pada lahan kritis eks tambang batu bara

Achmad Jayansyah menyimpulkan dari apa yang yang dia uraikan tersebut, dapat disimpulkan bahwa, pertama,  perubahan iklim merupakan masalah dunia karena dampaknya dirasakan oleh semua negara di dunia, dan menjadi tantangan paling besar yang harus dihadapi oleh masyarakat dunia.  tidak semata-mata hanya kepada dampak dari perubahan iklim dan respon internasional, tetapi juga menginginkan perlunya kerjasama internasional yang harus lebih ditingkatkan terutama di dalam aturan-aturan dan pelaksanaan yang harus dijalankan berkaitan dengan ecological safety.

Kedua,berbagai upaya harus juga dilakukan, bukan hanya menyangkut bagaimana menghentikan pemanasan global secepatnya, tetapi juga bagaimana mengantisipasinya agar ke depan tidak lagi menjadi masalah besar bagi negara-negara di dunia.

Ketiga, antisipasi ini penting, karena terkait kebijakan setiap negara terhadap pola-pola pembangunan yang hendak dijalankan. Hal ini berarti bahwa, pembangunan juga harus mempertimbangkan dengan polusi udara karena adanya penggunaan bahan bakar dari batu bara.

Keempat, antisipasi perubahan iklim akibat eksploitasi batubara yang berlebihan mengakibatkan suhu bumi di Kalimantan Timur mulai terasa dingin, ini artinya bahwa keseimbangan suhu bumi melai berkurang.

Terakhir, saatnya, semua negara sekarang ini dituntut untuk menjalankan kebijakan di bidang ekonomi yang ramah lingkungan, yang lebih mengedepankan teknologi baru yang tidak lagi bergantung pada bahan bakar fosil minyak bumi dan batu bara. Di samping itu, dituntut pula untuk mempertimbangkan pola-pola adaptasi yang disesuaikan dengan tingkat kerentanan masyarakatnya.

Indonesia khususnya “Kalimantan Timur “ sangat berkepentingan terhadap masalah ini. Oleh karena itu, Kaltim terus berupaya mengedepankan etika lingkungan dalam setiap pembangunan ekonomi sebab kekayaan sumber daya alam Indonesia ( Kalimantan Timur) bukan hanya untuk generasi masa kini tetapi juga masa mendatang. Ingat ! Hijaukan hutan, maka masyarakat dunia pasti sehat, katanya singkat. 

 

Penulis Pajar Pahrudin

Wartawan infokaltim online