Kategori

SAMARINDA - Menengok banjir bandang di tahun 1998 hampir sama di tahun 2019, bedanya air tidak sampai ke depan Pengadilan Tinggi Kaltim. Sedangkan 2019 hanya menggenangi jalan dr. Soetomo dan Bundaran Vorvo Samarinda. Jika berkaca dari bencana tersebut tahun 1998 akibat banyanknya illegal loging sementara di tahun 2019 maraknya penambangan batubara dan menyempitnya draenase.

Samarinda diguyur hujan sejak Minggu dini hari, 9 Juni 2019, sebagian besar kota tepian  tergenang air. Akses utama Kota Tepian kawasan Timur dan Utara lumpuh.

Tepatnya 20 tahun lebih kota tepian baru kemudian banjir besar lagi, mestinya evaluasi banjir seharusnya sudah diantisifasi pasca 1998 ternyata pemerintah ibu kota Provinsi Kalimantan Timur  belum berpikir kearah kesana.

Bagaimana mungkin mau jadi ibu kota Negara, pemerintah pusat pasti berpikir tidak mungkin ibu kota Negara pindah ke Kalimantan Timur. Bagaimana nanti akses jalan ke bandara APT Pranoto lumpuh. Saatnya pemerintah kota Samarinda mempercepat akses jalan alternative menuju bandara. Memperbaiki draenase,

Sebelumnya banjir hanya di tiga wilayah Kecamatan Samarinda Utara. Tepatnya Perumahan Bengkuring, Perumahan Griya Mukti, dan Kelurahan Gunung Lingai. Setelah diguyur hujan lima jam, banjir meluas. Bahkan hingga Samarinda Ulu dan Sungai Pinang.

Dari hasil pantauan infokaltim online  banjir Samarinda sempat melumpuhkan lalu lintas sejumlah ruas jalan dalam kota hingga hari ke- 7. Di antaranya Jalan Ir. Juanda,  Pangeran Antasari, Pangeran Suryanata, dr Soetomo, KH. Wahid Hasyim 1dan 2,  juga Jalan PM. Noor,  AW. Syahranie, Pemuda, DI Panjaitan serta Simpang Vorvo lumpuh total. Hingga berita ini di turunkan sampai, Kamis, (20/6/2019) kawasan bengukuring blok A dan C Samarinda Utara masih terendam air dan PLN Masih belum menyala.

Di tahun 1098  banjir hampir menegelamkan Pasar Segiri Samarinda, warga yang inigin melintasi jalan dr. Soetomo harus pakai perahu ces atau perahu karet.

Dari data diperoleh, banjir perumnas Bengkuring Samarinda Utara merendam puluhan  RT. Istimasi sekitar ribuan kepala keluarga (KK) dengan 2.000 jiwa lebih. Sedangkan Perumahan Griya Mukti meliputi 12 RT dengan lima ribu jiwa lebih di kepung air. Sementara di Kelurahan Gunung Lingai tercatat dua ribu jiwa lebih juga terendam air luapan Bendungan Benanga.(red)